Denpasar (aspirasibali.my.id)
Sekolah Tinggi Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (STISPOL) Wira Bhakti Denpasar menggelar Yudisium Mahasiswa ke-37 di Aula Yayasan Kebaktian Proklamasi, Selasa (30/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi penanda berakhirnya proses akademik bagi 112 mahasiswa dari Program Studi Administrasi Publik dan Program Studi Administrasi Bisnis sebelum memasuki tahapan wisuda serta dunia kerja maupun pengabdian kepada masyarakat.
Yudisium ke-37 menjadi momentum penting bagi para mahasiswa yang telah menyelesaikan seluruh kewajiban akademik selama menempuh pendidikan di STISPOL Wira Bhakti. Selain sebagai bentuk pengakuan atas capaian akademik mahasiswa, kegiatan ini juga menjadi ruang refleksi atas perjalanan pendidikan yang telah dilalui selama masa perkuliahan.
Melalui penyelenggaraan yudisium tersebut, STISPOL Wira Bhakti Denpasar kembali menegaskan komitmennya dalam menghasilkan lulusan yang siap berkontribusi bagi pembangunan daerah dan bangsa melalui kemampuan akademik, profesionalisme, serta pengabdian kepada masyarakat.
Ketua STISPOL Wira Bhakti Denpasar, Dr. I Wayan Sugiartana, menjelaskan bahwa pelaksanaan yudisium tahun ini semula direncanakan berlangsung di Taman Pujaan Bangsa Margarana. Namun, karena sejumlah kendala, kegiatan akhirnya dilaksanakan di Aula Yayasan Kebaktian Proklamasi.
“Harapan kami, pada tanggal 24 (Juli) mendatang seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan baik. Sebenarnya, pelaksanaan yudisium ini semula direncanakan di Taman Pujaan Bangsa Margarana. Namun, karena beberapa kendala yang dihadapi saat ini, kegiatan belum dapat diselenggarakan di lokasi tersebut,” ujarnya.
Menurutnya, lokasi pelaksanaan saat ini juga memiliki nilai sejarah yang penting karena pernah menjadi tempat penampungan anak-anak yatim piatu korban perang.
“Meski demikian, tempat pelaksanaan saat ini juga memiliki nilai historis yang sangat penting. Lokasi ini merupakan salah satu tonggak sejarah karena dahulu digunakan sebagai tempat penampungan anak-anak yatim piatu korban perang,” katanya.
Dalam sambutannya, Sugiartana menegaskan bahwa yudisium merupakan akhir dari proses pembelajaran akademik yang panjang sekaligus penetapan resmi kelulusan mahasiswa.
“Bapak dan Ibu yang saya hormati, hari ini merupakan akhir dari sebuah proses pembelajaran yang panjang, yaitu yudisium. Setelah mengikuti yudisium, para mahasiswa pada dasarnya sudah dapat menggunakan gelar akademiknya. Adapun prosesi wisuda akan dilaksanakan pada kesempatan berikutnya,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa mahasiswa yang mengikuti yudisium telah memenuhi seluruh persyaratan akademik dan administrasi yang ditetapkan perguruan tinggi. Status kelulusan mereka juga telah tercatat dan tervalidasi dalam sistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti).
“Melalui yudisium inilah ditetapkan bahwa mahasiswa yang bersangkutan telah memenuhi seluruh persyaratan akademik dan dinyatakan sah menyelesaikan perkuliahan. Status tersebut juga telah tercatat dan tervalidasi dalam sistem Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti),” jelasnya.
Lebih lanjut, Sugiartana memastikan seluruh peserta yudisium telah memenuhi berbagai persyaratan yang berkaitan dengan penerbitan ijazah, termasuk Nomor Ijazah Nasional.
“Seluruh proses yang telah dilalui selama masa perkuliahan menjadi dasar penetapan kelulusan pada hari ini. Karena itu, saya dapat memastikan bahwa seluruh mahasiswa yang mengikuti yudisium telah memenuhi persyaratan administrasi maupun akademik, termasuk terkait penerbitan Nomor Ijazah Nasional,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa pihak kampus memberikan perhatian serius terhadap kelengkapan administrasi akademik mahasiswa sebelum ditetapkan lulus.
“Saya telah menginstruksikan kepada seluruh pegawai dan dosen yang menangani proses administrasi ijazah agar memastikan seluruh persyaratan terpenuhi. Apabila Nomor Ijazah Nasional belum terbit, maka mahasiswa yang bersangkutan tidak diperkenankan mengikuti yudisium,” tegasnya.
Sementara itu, Kaprodi Administrasi Bisnis, Ni Made Puriati, S.AB., M.M., menyampaikan bahwa sebanyak 22 mahasiswa mengikuti yudisium dari program studi yang dipimpinnya.
“Pada yudisium kali ini, jumlah mahasiswa yang mengikuti yudisium sebanyak 22 orang,” ujarnya.
Puriati berharap para lulusan tidak berhenti pada pencapaian akademik yang diraih saat ini, tetapi terus mengembangkan karier dan kompetensi melalui pendidikan lanjutan maupun pengalaman profesional.
“Saya berharap para mahasiswa yang telah diyudisium dapat terus melanjutkan dan mengembangkan kariernya, serta meningkatkan kompetensi melalui pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, ilmu pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang telah diperoleh selama menempuh pendidikan diharapkan dapat menjadi bekal dalam menghadapi berbagai tantangan di dunia kerja maupun dalam pengabdian kepada masyarakat,” katanya.
Ia mengungkapkan bahwa tingkat serapan lulusan Program Studi Administrasi Bisnis tergolong tinggi. Sekitar 95 persen lulusan telah bekerja di berbagai sektor, terutama pariwisata, industri swasta, dan perusahaan berskala nasional.
“Dari sisi penyerapan tenaga kerja, lulusan Program Studi Bisnis menunjukkan capaian yang cukup baik. Tingkat penyerapan tenaga kerja mencapai sekitar 95 persen. Sebagian besar lulusan telah bekerja di sektor pariwisata, industri swasta, serta berbagai perusahaan berskala nasional,” ungkapnya.
Selain menjadi tenaga profesional, sebagian lulusan juga memilih membangun usaha secara mandiri melalui berbagai bidang usaha, termasuk sektor UMKM.
“Selain bekerja sebagai karyawan profesional, sejumlah lulusan juga mulai mengembangkan usaha secara mandiri. Mereka terjun ke dunia kewirausahaan melalui berbagai bidang usaha, mulai dari usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) hingga usaha lainnya yang memiliki potensi untuk terus berkembang,” tambahnya.
Di sisi lain, Kaprodi Administrasi Publik, Moch. Noor, S.Sos., M.Si., menyebutkan bahwa jumlah peserta yudisium dari Program Studi Administrasi Publik mencapai 90 orang, terdiri dari 46 laki-laki dan 44 perempuan.
“Jumlah peserta yang mengikuti yudisium tahun ini sebanyak 90 orang, terdiri dari 46 laki-laki dan 44 perempuan,” katanya.
Menurut Noor, sebagian besar lulusan yang mengikuti yudisium telah bekerja, bahkan beberapa di antaranya telah menduduki jabatan strategis sebagai perbekel dan menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
“Ke depan, kami berharap para lulusan dapat terus mengembangkan kompetensi dan profesionalismenya di dunia kerja. Sebagian besar lulusan yang mengikuti yudisium kali ini telah bekerja. Bahkan, beberapa di antaranya telah menjabat sebagai perbekel dan menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. Dengan latar belakang pendidikan Administrasi Publik, mereka telah memiliki pengalaman yang cukup dalam bidang pelayanan dan administrasi pemerintahan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa lulusan Administrasi Publik harus mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan yang terjadi di era reformasi tanpa meninggalkan nilai profesionalisme dan integritas.
“Di tengah era reformasi dan berbagai perubahan yang terus berlangsung, para lulusan dituntut untuk mampu mempertahankan jati diri sebagai sarjana Administrasi Publik. Mereka diharapkan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai profesionalisme dan integritas dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat,” katanya.
Menurut Noor, tantangan utama yang dihadapi aparatur dan tenaga pelayanan publik saat ini adalah memenuhi harapan masyarakat yang semakin tinggi terhadap kualitas layanan.
“Tantangan dunia kerja saat ini semakin kompleks. Salah satu yang paling utama adalah bagaimana memenuhi harapan dan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna layanan publik. Masyarakat menginginkan pelayanan yang cepat, tepat, transparan, dan memiliki kepastian,” jelasnya.
Karena itu, lulusan Administrasi Publik dituntut mampu memberikan pelayanan yang berkualitas dan profesional sesuai kebutuhan masyarakat.
“Karena itu, lulusan Administrasi Publik dituntut untuk mampu memberikan pelayanan yang berkualitas serta menjawab berbagai kebutuhan masyarakat secara profesional. Hal tersebut menjadi semakin relevan karena sebagian besar mahasiswa yang mengikuti yudisium telah bekerja di bidang administrasi dan pelayanan publik,” ujarnya.
Noor juga mengungkapkan bahwa tingkat penyerapan lulusan Program Studi Administrasi Publik sangat tinggi. Saat ini sekitar 99 persen lulusan telah bekerja, sementara hanya sekitar 1 persen yang masih dalam proses mencari pekerjaan.
“Saat ini sekitar 99 persen lulusan telah memiliki pekerjaan, sementara hanya sekitar 1 persen yang masih dalam proses mencari pekerjaan,” pungkasnya.
Yudisium ke-37 STISPOL Wira Bhakti Denpasar menjadi tonggak penting bagi para mahasiswa dalam menuntaskan perjalanan akademik mereka. Dengan tingkat serapan lulusan yang tinggi serta bekal kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan, para lulusan diharapkan mampu berkontribusi secara nyata di dunia kerja, pemerintahan, maupun dalam pengabdian kepada masyarakat.


