Badung (aspirasibali.my.id)
Ribuan kader dan pengurus PDI Perjuangan bersama para pelajar turun langsung ke lapangan dalam gerakan lingkungan bertajuk “Merawat Pertiwi” yang digelar serentak di seluruh kabupaten/kota se-Bali, Sabtu (23/5/2026). Salah satu titik kegiatan dipusatkan di kawasan Pantai Telaga Waja, Benoa, Kuta, Badung, melalui aksi penanaman mangrove, bersih pantai, hingga pelepasan tukik dan burung.
Gerakan ini menjadi simbol konsolidasi politik berbasis lingkungan yang tengah diperkuat PDI Perjuangan di Bali. Tidak sekadar kegiatan seremonial partai, aksi tersebut juga melibatkan pelajar SMP dan SMK sebagai bagian dari pendidikan ekologis bagi generasi muda.
Ketua Komisi I DPRD Bali dari Fraksi PDI Perjuangan, I Nyoman Budi Utama, menegaskan bahwa gerakan “Merawat Pertiwi” merupakan bentuk konkret kepedulian kader partai terhadap kelestarian lingkungan Pulau Dewata.
“Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak. Apa yang kita inginkan dalam program Merawat Pertiwi ini bisa berjalan sesuai harapan kita bersama. Hari ini kegiatan dilakukan secara serempak oleh seluruh kabupaten dan kota di Bali,” ujarnya di sela kegiatan.
Menurutnya, aksi pelestarian lingkungan dilakukan dengan berbagai pendekatan di masing-masing daerah. Penanaman mangrove dipusatkan di empat wilayah, yakni Badung, Jembrana, Buleleng, dan Denpasar, sementara daerah lainnya melaksanakan penghijauan dan penanaman tanaman produktif yang diharapkan memberi dampak ekonomi bagi masyarakat.
“Pesan dari kegiatan ini adalah bagaimana kita menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan. Dengan melibatkan pelajar, kita ingin generasi muda ikut peduli dan memiliki tanggung jawab menjaga alam Bali ke depan,” kata Budi Utama.
Ia menegaskan, gerakan tersebut bukan program dadakan, melainkan bagian dari komitmen panjang PDI Perjuangan dalam isu pelestarian lingkungan hidup. Pada 2026, program “Merawat Pertiwi” telah digelar dua kali, termasuk saat peringatan ulang tahun Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri pada Januari lalu.
“Dari dulu PDI Perjuangan sudah melaksanakan penghijauan dan pelestarian lingkungan. Sekarang dikonkretkan kembali melalui program Merawat Pertiwi dengan berbagai kegiatan nyata,” tegasnya.
Momentum gerakan ini juga bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh, hari suci umat Hindu di Bali yang dimaknai sebagai penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan dan alam semesta. Hari raya yang diperingati setiap 210 hari itu merupakan wujud syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi Dewa Sangkara sebagai penguasa kesuburan alam.
Dalam tradisi Tumpek Wariga, umat Hindu Bali melaksanakan ritual “ngatag” atau mengetuk batang pohon sambil memanjatkan doa agar tanaman tumbuh subur dan memberi kehidupan. Nilai spiritual tersebut dinilai sejalan dengan semangat pelestarian lingkungan yang diusung dalam gerakan “Merawat Pertiwi”.
Anggota DPRD Bali Fraksi PDI Perjuangan yang juga Ketua Panitia Khusus (Pansus) TRAP DPRD Bali, Dr. (C) Made Supartha, S.H., M.H., menilai gerakan lingkungan harus menjadi kesadaran kolektif di tengah derasnya pembangunan dan investasi di Bali.
“Kita ini bagian dari alam. Karena itu ke depan jangan lagi ada kebutuhan-kebutuhan yang merusak alam. Semua pihak, terutama investor dan pengusaha besar, harus memperhatikan lingkungan,” tegasnya.
Made Supartha menyoroti pembangunan di Bali yang menurutnya kerap terlalu berorientasi pada keuntungan bisnis semata tanpa memperhatikan dampak sosial dan ekologis. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara investasi, kepentingan masyarakat, dan kelestarian lingkungan.
“Tidak bisa hanya aspek bisnis yang dipikirkan, tetapi aspek sosial dan lingkungan diabaikan. Kita wajib menjaga alam. Itu bagian dari tanggung jawab moral dan kemanusiaan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa lingkungan yang sehat merupakan bagian dari hak asasi manusia. Karena itu, masyarakat diminta aktif mengawasi berbagai aktivitas yang berpotensi merusak kawasan konservasi, sumber air, hingga wilayah pesisir Bali.
“Lingkungan yang sehat dan bersih itu hak asasi manusia. Kita semua adalah bagian dari alam, dan akhirnya kita juga kembali ke alam. Itu yang sering dilupakan,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Made Supartha meminta masyarakat tidak ragu melaporkan pelanggaran lingkungan yang terjadi di lapangan.
“Bantu sama-sama menjaga alam dan lingkungan. Kalau ada yang melanggar, laporkan. Kita harus berani menertibkan dan menyelesaikannya demi masa depan Bali,” pungkasnya.
Sementara itu, Anggota Komisi I DPRD Bali Fraksi PDI Perjuangan, I Wayan Bawa, menilai keterlibatan generasi muda menjadi kunci menjaga keberlanjutan alam Bali di masa depan.
“Bertepatan dengan Hari Tumpek Wariga, kita memuliakan tumbuhan, di mana umat Hindu Bali melaksanakan upacara untuk memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai manifestasi kehidupan alam,” ujarnya.
Ia mengapresiasi keterlibatan para pelajar yang ikut turun langsung membersihkan kawasan pesisir dan mengikuti aksi penanaman mangrove.
“Kepada seluruh adik-adik SMP dan SMK, sampah yang telah dikumpulkan dari kegiatan bersih-bersih tadi agar ditaruh di sebelah mobil DLHK sehingga dapat dikelola dengan baik,” katanya.
Menurut I Wayan Bawa, pelestarian mangrove memiliki arti strategis bagi Bali karena menjadi benteng alami menghadapi ancaman abrasi pantai dan kerusakan kawasan pesisir.
“Semoga nantinya menjadi hutan mangrove yang bisa melindungi Pulau Bali dari abrasi dan bermanfaat untuk generasi kita. Karena Bali ini bukan saja milik generasi sekarang, tetapi juga milik generasi yang akan datang,” tegasnya.
Gerakan “Merawat Pertiwi” pun menjadi lebih dari sekadar aksi tanam pohon. Di tengah meningkatnya tekanan pembangunan dan persoalan sampah di Bali, gerakan ini memperlihatkan upaya PDI Perjuangan membangun narasi politik lingkungan berbasis gotong royong, budaya, dan partisipasi generasi muda demi menjaga keberlanjutan Pulau Dewata.


