Foto: Anggota DPRD Bali Fraksi PDI Perjuangan yang juga Ketua Panitia Khusus (Pansus) TRAP DPRD Bali, Dr. (C) Made Supartha, S.H., M.H.
Badung (aspirasibali.my.id)
Anggota DPRD Bali Fraksi PDI Perjuangan yang juga Ketua Panitia Khusus (Pansus) TRAP DPRD Bali, Dr. (C) Made Supartha, S.H., M.H., melontarkan pernyataan tegas soal pentingnya menjaga lingkungan hidup di tengah derasnya pembangunan dan investasi di Bali. Menurutnya, manusia bisa disebut “durhaka” apabila tidak merawat alam dan lingkungan tempat hidupnya sendiri.
Pernyataan tersebut disampaikan Made Supartha saat mengikuti gerakan lingkungan “Merawat Pertiwi” di kawasan Pantai Telaga Waja, Benoa, Kuta, Sabtu (23/5/2026). Kegiatan itu digelar serentak oleh kader dan pengurus PDI Perjuangan di seluruh Bali dengan melibatkan masyarakat dan generasi muda.
“Durhaka kita kalau tidak merawat alam dan lingkungan. Karena manusia hidup dari alam, menikmati alam, dan pada akhirnya juga kembali ke alam,” tegasnya.
Menurut Made Supartha, selama ini pembangunan di Bali sering kali terlalu berorientasi pada keuntungan bisnis semata tanpa mempertimbangkan dampak ekologis dan sosial yang ditimbulkan. Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan akan membawa konsekuensi besar terhadap kehidupan masyarakat Bali ke depan.
“Kita ini bagian dari alam. Karena itu jangan lagi ada kebutuhan-kebutuhan yang merusak alam. Semua pihak, terutama investor dan pengusaha besar, wajib memperhatikan lingkungan,” ujarnya.
Ia menilai konsep pembangunan berkelanjutan harus dijalankan secara seimbang antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan. Jika salah satu diabaikan, maka dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari krisis air bersih, kerusakan kawasan konservasi, hingga pencemaran laut dan tanah.
“Tidak bisa hanya aspek bisnis yang dipikirkan, sementara aspek sosial dan lingkungan diabaikan. Kita wajib menjaga alam. Itu tanggung jawab moral dan kemanusiaan,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Made Supartha juga mengingatkan bahwa lingkungan yang sehat dan bersih merupakan bagian dari hak asasi manusia. Ia menyebut menjaga alam bukan hanya tugas pemerintah, melainkan kewajiban seluruh elemen masyarakat.
“Lingkungan yang sehat dan bersih itu hak asasi manusia. Kalau alam rusak, yang pertama menerima dampaknya adalah manusia sendiri,” ucapnya.
Gerakan “Merawat Pertiwi” yang berlangsung bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Wariga atau Tumpek Uduh dinilai memiliki makna spiritual yang kuat. Hari suci umat Hindu Bali tersebut menjadi momentum penghormatan terhadap tumbuh-tumbuhan dan alam semesta sebagai sumber kehidupan.
Made Supartha pun mengajak masyarakat untuk berani mengawasi dan melaporkan berbagai aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan Bali.
“Bantu sama-sama menjaga alam dan lingkungan. Kalau ada pelanggaran, laporkan. Kita harus berani menertibkan demi masa depan Bali,” pungkasnya.
