Foto: KSP Kami Jaya Sejahtera saat menggelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Paripurna Tahun Buku 2025 yang digelar di Restoran Jejak Bali Kuliner (Jebak), Kota Denpasar, Sabtu (14/2/2026).
Denpasar (aspirasibali.my.id)
KSP Kami Jaya Sejahtera kembali menegaskan posisinya sebagai koperasi simpan pinjam yang sehat dan bertumbuh. Hal itu tercermin dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) Paripurna Tahun Buku 2025 yang digelar di Restoran Jejak Bali Kuliner (Jebak), Kota Denpasar, Sabtu (14/2/2026).
Dalam forum tertinggi koperasi tersebut, pengurus memaparkan capaian kinerja yang menunjukkan tren pertumbuhan positif. Aset koperasi tercatat mencapai Rp14,5 miliar atau meningkat sekitar 17 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Lebih dari itu, Sisa Hasil Usaha (SHU) melonjak signifikan hingga 73 persen.
Ketua KSP Kami Jaya Sejahtera, I Made Sudiksa, menyebut capaian tersebut tidak lepas dari peran aktif anggota yang terus menjaga kedisiplinan dan kepercayaan terhadap koperasi.
“Pertumbuhan ini tidak terlepas dari partisipasi aktif anggota. Tingginya kedisiplinan dalam pembayaran angsuran serta kepercayaan anggota menjadi fondasi utama peningkatan kinerja koperasi,” ujar Sudiksa di sela kegiatan.
RAT Tahun Buku 2025 sebelumnya telah dilaksanakan secara tertulis melalui sistem daring. Laporan pertanggungjawaban pengurus dan pengawas disampaikan kepada seluruh anggota melalui Google Form dan WhatsApp. Dari total 921 anggota, sebanyak 469 anggota memberikan persetujuan terhadap laporan tersebut, sehingga memenuhi syarat kuorum sesuai ketentuan yang berlaku.
RAT Paripurna yang digelar secara tatap muka menjadi momentum pengesahan resmi laporan sekaligus mempererat kebersamaan antaranggota.
“RAT bukan hanya kewajiban organisasi, tetapi juga ajang reuni tahunan anggota. Kami selalu berupaya menghadirkan suasana hangat dan penuh kebersamaan,” ungkap Sudiksa.
Pelaksanaan RAT tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan Hari Valentine. Pengurus pun menghadirkan berbagai doorprize sebagai simbol “sentuhan cinta” bagi anggota yang selama ini setia menjadi bagian dari koperasi.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kesejahteraan anggota, koperasi secara konsisten membagikan SHU setiap tahun. Namun, pembagiannya tidak dilakukan secara tunai, melainkan langsung dimasukkan ke rekening tabungan masing-masing anggota.
“SHU langsung masuk ke rekening tabungan anggota. Mereka bisa menariknya kapan saja atau membiarkannya tetap tersimpan sebagai simpanan masa depan,” jelasnya.
Kebijakan ini dinilai lebih modern sekaligus mendorong budaya menabung di kalangan anggota.
Dengan kondisi keuangan yang semakin solid, manajemen koperasi menargetkan pertumbuhan berkelanjutan hingga 2030. Sudiksa menegaskan pihaknya membidik aset minimal Rp25 miliar pada tahun tersebut, seiring peningkatan jumlah anggota dan kinerja usaha.
Saat ini, koperasi memiliki 921 anggota dengan target penambahan anggota sebesar 25 persen pada 2026.
“Kami tidak muluk-muluk. Target kami sederhana: aset naik, SHU naik, dan anggota bertambah. Yang terpenting adalah koperasi terus tumbuh dan memberi manfaat nyata,” tegasnya.
Ia menambahkan, dukungan pemerintah daerah dan Dekopin terhadap koperasi di Bali saat ini sangat kuat, sehingga meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap koperasi sebagai lembaga keuangan yang aman dan terpercaya.
“Mari kita menua bersama dalam koperasi ini. Artinya, kita tetap berada dalam satu rumah, saling mendukung, dan tumbuh bersama hingga masa depan,” ujarnya penuh makna.
Kinerja Tahun Buku 2025 juga mendapat apresiasi dari jajaran pengawas. Ketua Badan Pengawas periode 2024–2029, I Made Sudiksa, menegaskan bahwa berdasarkan hasil pengawasan, kondisi koperasi secara umum tergolong sehat, meskipun masih terdapat beberapa indikator yang perlu ditingkatkan.
Ia menjelaskan, pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mencakup aspek keuangan dan non-keuangan.
“Kami memiliki empat cakupan pengawasan. Secara non-finansial, kami melakukan observasi dan pengamatan langsung ke koperasi. Minimal sebulan dua kali kami turun langsung untuk memastikan operasional berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik,” ujarnya.
Dari sisi keuangan, pengawasan mengacu pada sekitar 74 indikator penilaian sesuai regulasi perkoperasian.
“Berdasarkan hasil pengawasan kami, untuk Tahun Buku 2025, koperasi ini tergolong sehat. Hanya ada tiga indikator yang belum terpenuhi secara optimal,” jelasnya.
Salah satu indikator tersebut adalah Return on Assets (ROA). Menurutnya, belum optimalnya ROA dipengaruhi ketatnya persaingan dengan bank umum yang menawarkan kemudahan akses kredit dan bunga kompetitif.
“Persaingan semakin dinamis. Bank umum mendapat dukungan permodalan besar dari pemerintah, sehingga koperasi harus mampu beradaptasi dan tetap kompetitif. Kondisi ini berdampak pada kas idle yang cukup besar, sehingga ROA belum maksimal,” terangnya.
Selain itu, rasio permodalan juga menjadi perhatian. Idealnya, rasio permodalan sehat berada di kisaran 30 persen dari total kewajiban, sementara saat ini koperasi baru mencapai 18 persen.
“Permodalan ini sangat bergantung pada partisipasi anggota, terutama dalam meningkatkan modal sendiri. Jika peran aktif anggota semakin kuat, kami optimistis rasio ini bisa terus membaik,” tambahnya.
Meski demikian, lonjakan SHU hingga 73 persen dinilai sebagai buah dari konsistensi penerapan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
“Kami selalu menekankan agar tidak tergoda bersaing secara tidak sehat, misalnya dengan menurunkan bunga secara ekstrem tanpa perhitungan risiko. Yang utama adalah menjaga kualitas kredit dan kredibilitas anggota,” tegasnya.
“Koperasi adalah milik anggota. Karena itu, peran aktif anggota sangat penting, terutama dalam memperkuat modal sendiri. Jika anggota solid, koperasi akan semakin sehat dan mampu bersaing di tengah tantangan ekonomi,” pungkasnya.
Apresiasi juga datang dari Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) Provinsi Bali. Komite Permodalan dan Investasi Dekopinwil Bali, Ir. Made Durya, menyampaikan penghargaan atas kinerja koperasi yang dinilai mampu tumbuh sehat dan konsisten melaksanakan RAT sebagai bentuk akuntabilitas kepada anggota.
“Kami dari Dekopinwil memiliki tugas utama membangun edukasi dan memfasilitasi gerakan koperasi. Kami sangat senang melihat koperasi seperti KSP Kami Jaya Sejahtera mampu bertumbuh, berkembang, dan sehat. Ini merupakan harapan kita bersama dalam gerakan koperasi,” ujarnya.
Menurut Durya, RAT merupakan amanat undang-undang yang wajib dilaksanakan minimal sekali dalam setahun.
“RAT adalah kewajiban pengurus dan pengawas untuk mempertanggungjawabkan kinerja kepada anggota. Semakin disiplin koperasi melaksanakan RAT, maka semakin baik tata kelola koperasi tersebut,” tegasnya.
Ia mengungkapkan, saat ini terdapat sekitar 450 koperasi di Kota Denpasar dan lebih dari 6.000 koperasi di seluruh Bali. Mayoritas mulai menunjukkan pemulihan signifikan pascapandemi COVID-19.
“Tahun 2025 menjadi tahun yang lebih baik. Banyak koperasi sudah mulai pulih dan mampu melaksanakan RAT. Dampak pandemi sebelumnya memang cukup berat, namun sekarang koperasi sudah menunjukkan kebangkitan,” jelasnya.
“Jika koperasi tidak melaksanakan RAT berturut-turut, itu menjadi indikator koperasi tersebut tidak sehat. Karena itu, kami bersama Dinas Koperasi terus mendorong koperasi untuk tetap aktif dan sehat,” tambahnya.
Durya berharap semakin banyak koperasi melaksanakan RAT secara disiplin sehingga kepercayaan masyarakat terhadap koperasi terus meningkat.
“Harapan kami, semakin banyak koperasi melaksanakan RAT dengan baik, maka kepercayaan masyarakat akan semakin tinggi. Koperasi adalah salah satu pilar penting ekonomi kerakyatan, dan kami berharap semakin banyak masyarakat bergabung menjadi anggota koperasi,” ujarnya.
Dengan pertumbuhan aset yang solid, lonjakan SHU signifikan, pengawasan ketat berbasis 74 indikator, serta dukungan kuat anggota dan pemangku kepentingan, KSP Kami Jaya Sejahtera optimistis melangkah mantap menuju 2030 sebagai salah satu pilar ekonomi kerakyatan yang tangguh dan berkelanjutan di Bali.
