Denpasar (aspirasibali.my.id)
Tokoh masyarakat yang juga dikenal concern terhadap pembangunan Bali, I Nyoman Tirtawan, kembali mendorong percepatan pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sebagai bandara induk pariwisata Indonesia. Menurutnya, keberadaan bandara baru tersebut merupakan kebutuhan strategis untuk meningkatkan daya saing sektor pariwisata nasional sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai sektor.
Pahlawan Penyelamat Uang Rakyat Bali Rp98 miliar itu menilai Indonesia hingga kini belum memiliki bandara induk yang mampu menjadi pusat distribusi penerbangan internasional. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu kendala dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan mancanegara.
"Kita tahu Bali merupakan induk pariwisata Indonesia. Namun, sangat disayangkan Indonesia hingga saat ini belum memiliki bandara induk yang mampu mendukung peningkatan volume kedatangan wisatawan mancanegara," ujar Tirtawan.
Ia kemudian membandingkan capaian sektor pariwisata Indonesia dengan Malaysia. Menurutnya, negara tetangga yang memiliki luas wilayah jauh lebih kecil mampu menarik sekitar 25 juta wisatawan setiap tahun. Dengan potensi yang dimiliki Indonesia, Tirtawan meyakini jumlah kunjungan wisatawan seharusnya bisa jauh lebih besar.
"Kalau kita bandingkan dengan Malaysia, yang luas wilayahnya hanya sekitar seperenam Indonesia, mereka mampu menarik sekitar 25 juta wisatawan. Seharusnya, jika Indonesia ingin setara, kita bisa menargetkan sekitar 150 juta kunjungan wisatawan," katanya.
Menurut Tirtawan, besarnya jumlah kunjungan wisatawan akan berdampak langsung terhadap peningkatan devisa negara. Berdasarkan perhitungannya, dengan rata-rata pengeluaran wisatawan sebesar Rp1.760.000 per hari dan lama tinggal selama tujuh hari, Indonesia berpotensi memperoleh devisa hingga Rp1.840 triliun.
"Dengan rata-rata pengeluaran wisatawan sekitar Rp1.760.000 per hari dan lama tinggal rata-rata tujuh hari, potensi devisa yang dihasilkan bisa mencapai sekitar Rp1.840 triliun. Nilai itu hampir mencapai dua pertiga APBN Indonesia," ungkapnya.
Atas dasar itu, ia mengusulkan agar pembangunan Bandara Bali Utara segera dipercepat. Menurutnya, bandara tersebut harus diposisikan sebagai bandara induk pariwisata Indonesia agar mampu mengakomodasi peningkatan arus wisatawan internasional di masa depan.
"Karena itulah saya mengusulkan percepatan pembangunan Bandara Bali Utara yang kini juga menjadi perhatian dan didorong oleh Presiden Prabowo. Bandara tersebut harus menjadi bandara induk pariwisata Indonesia. Tanpa bandara induk, sektor pariwisata nasional akan sulit berkembang secara maksimal," tegasnya.
Tirtawan menilai lokasi pembangunan bukanlah persoalan utama. Menurutnya, yang paling penting adalah percepatan realisasi proyek, baik dibangun di daratan maupun di laut, mengingat perkembangan teknologi penerbangan saat ini sudah sangat maju.
"Saya mendorong agar pembangunan Bandara Bali Utara segera direalisasikan, baik dibangun di daratan maupun di laut. Yang terpenting adalah percepatannya, karena saat ini dunia penerbangan sudah sangat maju dan modern," katanya.
Ia juga menilai Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sudah menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari luas kawasan, hanya memiliki satu landasan pacu, hingga kapasitas yang semakin padat sehingga sulit menambah frekuensi penerbangan maupun melayani pesawat berbadan besar.
"Bandara I Gusti Ngurah Rai menurut saya sudah memiliki banyak keterbatasan. Selain luasnya terbatas, bandara ini hanya memiliki satu landasan pacu dengan panjang runway yang juga terbatas. Akibatnya, kapasitas untuk menambah penerbangan maupun melayani pesawat berbadan besar sudah sangat sulit. Di sisi lain, kondisinya juga sudah sangat padat," jelasnya.
Karena itu, Tirtawan berharap pemerintah pusat segera membentuk tim percepatan pembangunan Bandara Bali Utara. Ia mengingatkan bahwa Presiden Prabowo sebelumnya telah menggagas pembangunan North Bali International Airport sebagai konsep New Singapore atau New Hong Kong.
"Karena itu saya berharap pemerintah, khususnya Presiden Prabowo yang sebelumnya telah menyampaikan gagasan membangun New Singapore atau New Hong Kong melalui North Bali International Airport, segera membentuk tim percepatan," ujarnya.
Menurutnya, saat ini terdapat sejumlah alternatif lokasi pembangunan yang perlu dikaji secara komprehensif. Ia menyebut adanya usulan pembangunan di Bali Barat maupun di kawasan Kubutambahan, baik di daratan maupun secara offshore.
"Saya mendengar ada dari Pembari mau membangun di darat, saya juga dengar dari Pak Gubernur Wayan Koster mau membangun di Bali Barat, ada pula rencana dari PT BIBU yang mengusulkan pembangunan bandara di lepas pantai (offshore). Menurut saya, tim percepatan perlu segera melakukan kajian dan analisis untuk menentukan lokasi yang paling memungkinkan, apakah di Bali Barat, di daratan Kubutambahan, atau di laut wilayah Kubutambahan," katanya.
Lebih lanjut, Tirtawan menegaskan Indonesia memiliki modal besar berupa kekayaan alam dan budaya yang telah dikenal dunia. Potensi tersebut, menurutnya, harus didukung oleh infrastruktur transportasi udara yang memadai agar mampu menarik lebih banyak wisatawan mancanegara.
"Indonesia memiliki kekayaan alam dan budaya yang luar biasa. Kita memiliki Pulau Komodo, Raja Ampat, Danau Toba, Candi Borobudur, Gunung Bromo, hingga budaya Bali yang sangat khas dan menjadi daya tarik dunia. Potensi ini harus didukung oleh infrastruktur penerbangan yang memadai agar semakin banyak wisatawan datang ke Indonesia," tuturnya.
Ia menilai pembangunan Bandara Bali Utara tidak hanya akan memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga memberikan efek berganda terhadap perekonomian nasional. Meningkatnya jumlah wisatawan akan mendorong permintaan terhadap hasil pertanian, perkebunan, peternakan, transportasi, hingga berbagai sektor jasa lainnya.
"Saya berharap Presiden bersama seluruh jajaran pemerintah dapat mempercepat pembangunan Bandara Bali Utara. Kehadiran bandara ini tidak hanya akan mempercepat pertumbuhan sektor pariwisata, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap perekonomian nasional," ujarnya.
"Semakin banyak wisatawan datang, maka kebutuhan terhadap hasil pertanian, perkebunan, peternakan, transportasi, hingga sektor jasa lainnya juga akan meningkat. Artinya, manfaat ekonomi akan dirasakan oleh banyak sektor sekaligus, dan devisa negara pun akan bertambah secara signifikan," tambahnya.
Tirtawan memperkirakan apabila Bandara Bali Utara memiliki kapasitas tiga kali lebih besar dibandingkan Bandara Ngurah Rai saat ini, maka jumlah wisatawan yang datang ke Bali berpotensi meningkat hingga sekitar 45 juta orang setiap tahun. Kehadiran bandara tersebut juga diyakini akan menjadi pintu gerbang menuju berbagai destinasi wisata di seluruh Indonesia.
"Saat ini Bali menerima sekitar 15 juta wisatawan setiap tahun. Jika nantinya tersedia bandara baru dengan kapasitas tiga kali lebih besar dibandingkan saat ini, maka kunjungan wisatawan berpotensi meningkat hingga sekitar 45 juta orang. Kehadiran bandara tersebut juga akan menjadi pintu gerbang menuju berbagai destinasi wisata di seluruh Nusantara," katanya.
Ia juga menekankan bahwa pembangunan pariwisata yang berkelanjutan jauh lebih menguntungkan dibandingkan eksploitasi sumber daya alam yang berpotensi merusak lingkungan.
"Daripada terus mengeksploitasi sumber daya alam yang berpotensi merusak lingkungan, lebih baik kita menjadikan keindahan alam dan budaya Indonesia sebagai daya tarik utama. Wisatawan datang untuk menikmati Komodo, Raja Ampat, Borobudur, Gunung Bromo, Bali, dan berbagai destinasi lainnya. Itulah kekuatan Indonesia yang harus dimaksimalkan," ujarnya.
Di akhir pernyataannya, Tirtawan kembali mendesak pemerintah pusat agar segera membentuk tim percepatan sehingga pembangunan Bandara Internasional Bali Utara dapat segera direalisasikan.
"Sekali lagi, saya sangat berharap pemerintah pusat segera membentuk tim percepatan agar pembangunan Bandara Internasional Bali Utara dapat segera terwujud sebagai jangkar utama pariwisata Indonesia," pungkasnya.

