Denpasar (aspirasibali.my.id)
Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menyentuh Rp17.129 per dolar Amerika Serikat memberikan dampak kompleks bagi perekonomian Bali. Di satu sisi, kondisi ini menjadi katalis bagi sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah. Namun di sisi lain, tekanan terhadap biaya hidup dan operasional berpotensi menimbulkan beban baru, terutama bagi masyarakat lokal.
Ekonom Bali, Virguna Bagoes Oka, menilai kondisi tersebut sebagai fenomena “pisau bermata dua” bagi Pulau Dewata yang sangat bergantung pada sektor pariwisata.
“Pelemahan rupiah ke Rp17.129/USD dapat dikatakan sebagai pisau bermata dua buat Bali. Karena 60-70% PDRB Bali dari pariwisata, efeknya akan dapat terasa di 2 arah,” ujarnya.
Dari sisi positif, melemahnya rupiah membuat Bali menjadi destinasi yang semakin terjangkau bagi wisatawan mancanegara. Hal ini berdampak langsung pada peningkatan daya beli turis asing.
“Daya beli turis asing (purchasing powernya) akan naik 15-20%. Artinya kamar hotel, makan di warung, sewa mobil, sampai tiket sunrise trek Batur jadi lebih murah kalau dibayar pakai mata uang USD/Euro/AUD,” jelasnya.
Ia mencontohkan, hotel kelas menengah yang sebelumnya dipasarkan seharga 85 dolar AS per malam kini setara sekitar 70 dolar AS, meskipun harga dalam rupiah tetap di kisaran Rp1 juta. Kondisi ini membuka peluang bagi wisatawan untuk meningkatkan kualitas konsumsi selama berlibur.
“Turis bisa upgrade ke hotel bintang 4, makan fine dining, atau stay lebih lama,” tambahnya.
Selain itu, posisi Bali dinilai semakin kompetitif dibandingkan destinasi lain di kawasan Asia Tenggara seperti Thailand dan Kamboja. Tidak hanya wisatawan asing, wisatawan domestik juga terdorong untuk memilih Bali sebagai tujuan liburan karena biaya perjalanan ke luar negeri semakin mahal.
“Data statistik Bali mencatat Nov 2025 trip domestik ke Bali naik 32,83% yoy jadi 2,37 juta perjalanan. Sehingga wisatawan domestik akan jauh lebih murah,” paparnya.
Namun demikian, Virguna mengingatkan adanya sejumlah dampak negatif yang tidak bisa diabaikan. Pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya hidup masyarakat, khususnya kelompok menengah ke bawah.
“Sisi negatifnya bahwa biaya hidup akan menjadi lebih mahal terutama bagi kalangan menengah kebawah,” tegasnya.
Kenaikan biaya juga dirasakan pada sektor usaha pariwisata yang masih bergantung pada bahan impor. Produk seperti wine, keju, daging premium, hingga perlengkapan hotel mengalami kenaikan harga akibat melemahnya rupiah.
“Barang impor akan jadi mahal. Hotel, resto, spa di Bali banyak pakai bahan impor… Saat rupiah lemah, harga modal naik. Pengusaha harus pilih: naikkan harga jual atau serap rugi. Kalau harga naik, daya saing Bali sebagai ‘destinasi kelas dunia’ bisa terganggu,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menyoroti potensi inflasi yang dapat semakin membebani masyarakat lokal. Kebutuhan pokok yang masih bergantung pada impor turut memperparah tekanan harga.
“Dampak inflasi akan sangat memberatkan warga lokal/ krama Bali, akibat akan banyak kebutuhan pokok Bali yg masih impor,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa inflasi Bali diproyeksikan mencapai 4,7 persen pada akhir tahun, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi ini membuat kenaikan upah tidak sebanding dengan penurunan daya beli pekerja, khususnya di sektor perhotelan dan restoran.
Selain itu, pelaku usaha yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing turut menghadapi tekanan. Agen perjalanan yang menjual paket luar negeri dalam rupiah tetapi membayar vendor dalam dolar berisiko mengalami kerugian akibat selisih kurs.
“Outbound travel yang agent & utang dolar kena pukul. Agen yang jual paket umroh/Eropa dengan harga rupiah tapi bayar ke vendor pakai USD bisa rugi kurs. Hotel yang punya cicilan bank/lembaga keuangan dalam mata uang asing akan juga berat,” paparnya.
Virguna juga mengingatkan bahwa ketergantungan yang berlebihan terhadap sektor pariwisata dapat menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi Bali di masa depan.
“Ketergantungan berlebihan ke depannya kepada sektor pariwisata akan menjadi ancaman besar,” katanya.
Ia menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah saat ini memang memberikan dorongan signifikan bagi sektor pariwisata, namun tidak bisa dijadikan sebagai solusi jangka panjang.
“Rupiah Rp17.129 itu ‘doping’ buat pariwisata – bikin turis lebih royal & Bali banjir bookingan. Tapi doping nggak bisa terus-terusan. Kalau biaya impor nggak dikendalikan & Bali tetap 100% andalkan turis, begitu dolar balik menguat atau ada krisis global, ekonomi Bali langsung drop,” tegasnya.
Sebagai solusi, Virguna mendorong penguatan sektor lokal, khususnya melalui pengembangan rantai pasok produk agrikultura dan kerajinan dalam negeri.
“Solusi terbaik bagi krama Bali… untuk manfaatkan momentum turis ramai sekaligus memperkuat rantai pasok produk lokal (sayur lokal, buah tomat berger, strawberry lokal, mini cucumber, serta buah paprika pakai, ikan lokal, kerajinan lokal) dalam rangka meningkatkan daya saing Bali melawan pasokan yang sedang mengancam perekonomian Bali,” pungkasnya.
Dengan demikian, momentum pelemahan rupiah dapat dimanfaatkan sebagai peluang jangka pendek, sembari memperkuat fondasi ekonomi lokal agar lebih tahan terhadap gejolak global di masa mendatang.
